Tulisan Rendy Saputra Tentang Masalah Pertanian Yang Jadi Viral di Sosial Media

Tulisan panjang berikut ini gak bertujuan untuk nyerang siapa-siapa. Apa yang terjadi di negeri ini nampaknya adalah akumulatif budaya dan cara main yang salah kaprah.

Pagi ini, status facebook Saya tentang import garam sedikit menuai pro kontra. Ada yang menyatakan import garam wajar, karena memang supply turun drastis akibat gagal panen. Ada juga yang bilang bahwa import garam ini modus, agar ada transaksi import yang menguntungkan sebagian pihak. Bahkan ada komentar yang masuk, bahwa kegagalan produksi ink dipicu oleh banyaknya petani garam yang beralih profesi, karena hancurnya harga jual garam dalam negeri.

Saya ingin berfokus pada 1 hal : bisnis model industri pertanian-perkebunan harus direvolusi.

Mungkin Saya salah dalam menilai, namun hati Saya merasa, bahwa ada yang gak beres pada bisnis model pertanian-perkebunan di Indonesia.

Petani sudah bersusah payah menanam, melakukan proses pemeliharaan dalam jangka waktu yang cukup panjang, dengan biaya pupuk, pestisida dan benih yang cukup tinggi. Namun ketika panen, harga jualnya tertekan gak karuan. Profit kecil. Akhirnya, Menjadi petani menjadi tidak menarik.

Temuan Saya berbincang dengan beberapa petani, para petani harus memodali benih, mencari lahan, menanggung biaya pupuk dan pestisida, namun petani juga yang harus menanggung resiko... apakah bisa panen atau tidak.

Anehnya, dengan resiko dan ruang beban kerja sebesar ini, profit petanilah yang paling kecil. Yang besar malah jalur distribusi. Para tengkulak relatif hadir tanpa resiko berarti. Bukan saya anti tengkulak, rantai distribusi itu penting, namun jadi tidak fair ketika petani yang menanggung resiko gak karuan ini, menjadi tidak menarik bisnis modelnya. Menjadi tidak menarik profitnya.

***

usaha bawang merah , usaha bawang putih , masalah pertanian di Indonesia

rendy saputra , usaha bawang merah , usaha bawang putih



Ada beberapa poin bahaya, ketika bisnis model pertanian ini tidak menarik.

1. Jika harga jual panen beras, garam, dan komoditas pertanian lainnya menjadi tidak menarik, maka para petani akan berhenti menjadi petani. Mereka akan mencari profesi pekerjaan yang lebih jelas menguntungkan, pasti, dan bisa menopang kehidupan.

Akhirnya, beberapa anak muda desa lebih memilih menjadi TKI ke luar negeri. Tenaga mereka malah tergunakan untuk memberi nilai tambah pada industri negara lain. Angkatan kerja produktif ini jadi mengalir energinya ke luar negeri.

2. Turunan kedua dari alih profesi ini, lahan-lahan negeri yang harusnya produktif menjadi lahan pertanian akhirnya terbengkalai. Karena tidak ada lagi yang mau menanam, tidak ada lagi yang mau bertani.

Nilai tambah lahan negeri jadi kosong. Menurut Saya ini bahaya. Sumber daya lahan tidak termanfaatkan. Nilai tambah negeri tidak meningkat. Ekonomi pasti tidak sehat.

3. Setelah nomor 2 terjadi, turunan berikutnya adalah turunnya pasokan produksi komoditas dalam negeri. Kemudian, kita akan gagal memasok kebutuhan dalam negeri, sementara 250 juta anak bangsa tetap membutuhkan pasokan pangan. 250 juta anak bangsa tetap butuh beras, garam, teh, kopi, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Akibatnya, terjadilah impor. Mengalirlah komoditas dagang dari luar negeri untuk kemudian menjejali lasar dalam negeri. Ini makin mengerikan.

4. Mengapa nomor 3 mengerikan, karena aliran uang kemudian mengalir ke luar negeri.

Kita lelah-lelah ngumpulin pajak, lalu jadi gaji untuk aparatur negera, dan dari gaji PNS tersebut, terbelanjakanlah untuk kebutuhan sehari-hari. Jika berasnya dari luar negeri, lalu garamnya juga dari luar negeri, maka arus uang akan keluar dari negeri ini.

TKI kita lelah-lelah mengirim uang ke dalam negeri. Mereka mengirimi orang tua dan keluarga mereka. Tetapi begitu dikirim, uang itu kemudian terbelanjakan lagi ke luar negeri. Mulai dari beli kendaraan yang bukan brand nasional, hingga hal mendasar seperti garam.

Intinya, begitu barang impor memenuhi pasar dalam negeri, secara logika.. arus uang dari dalam negeri akan keluar. Dan ini menyedihkan.

5. Setelah jumlah uang keluar ke luar negeri sanhat besar, arus perputaran kesejahteraan dalam negeri menjadi rendah. Arus uang dalam negeri menjadi lesu, karena putaran uang banyak bocor ke luar negeri.

Kita gagal menjaga uang yang sudah masuk di negeri sendiri. Ini yang membuat kita jauh dari sejahtera.

**

Berikut beberapa fikiran liar Saya tentang solusi yang mungkin kita bisa lakukan.

1. Kita harus berfikir agar petani memiliki daya jual panen yang tinggi. Salah satu yang Saya fikirkan dan mungkin dilakukan adalah dengan memotong jalur distribusi.

Anak-anak muda dari pedesaan, harus dididik untuk menjadi tenaga marketing dan penjual yang handal. Jika hasil panen bisa langsung dinikmati oleh end user atau setidak nya pasar, maka harga jual bisa tinggi.

Ada lahan hidroponik di Bogor, jika diambil tengkulak, per kg nya hanya 17.000. Varian selada. Namun jika dideliver ke end user, harga jadi 21 sd 23 ribu.

Dengan adanya kecanggihan teknologi, alur komunikasi, kemudahan pengiriman melalui gojeg misalnya, hal ini bisa menjadi solusi bagi petani hidroponik. Toh bertanjnya juga didalam kota.

2. Meningkatkan revenue stream pertanian dengan pendekatan teknologi.

Jika masa panen 3 bulan, maka 1 tahun... petani hanya bisa berharap 4x panen per tahun.

Sebenarnya temuan teknologi pertanian sudah luar biasa berkembang, tetapi yang mampu melakukan itu... gak tertarik turun ke pertanian, karena bingung.. uangnya sedikit.. lebih milih kerja di Bank akhirnya. Ini alami. Kita gak bisa maksa orang untuk sengsara.

Padahal, ada teknologi untuk memperpendek masa panen. Lalu dengan masa panen yang pendek, kuantitas panen bisa dilipatgandakan.

Panen cepat... dan banyak...

Bahkan dalam 1x masa tanam, bisa saja ditanam beberapa varian. Sehingga revenue atau pemasukan petani jadi besar.

Dengan begini, bertani menjadi menarik. Kalo revenue tinggi, dan cost rendah, maka profit tinggi. Kalo profit tinggi, orang-orang akan bertani lagi. Ayolah... ini mungkin kok.

Anak-anak muda akan bangga turun ke lahan pertanian, karena mereka bisa dapat income 20-50 juta per bulan. Sejahtera. Pasti pertanian kita akan tumbuh.

3. Keinginan yang kuat dari Pemerintah.

Saya menyadari, apa yang pemerintah hadapi tidak mudah. Ketika berjuta juta ton barang impor itu mengalir, pasti ada pihak-pihak yang teruntungkan secara maksimal. Ini tentang arus uang triliunan rupiah.

Bagaimana pun, pemerintah sedang menghadapi "para pedagang". Pihak luar juga punya kepentingan jualan di pasar Indonesia yang segar. 250 juta perut. Ini pasar yang besar.

Tinggal bagaimana... kita mendukung pemerintah untuk menghadapi para "pedagang" ini. Setiap elemen harus bekerjasama secara elegan. Asal kita mau, insyaAllah kita bisa menghadapi semua ini.

***

Demikian tulisan sederhana Saya. Bisa benar. Bisa juga salah. Saya hanya anak bangsa yang ingin berpendapat di linimasa sendiri. Semoga mentriger teman-teman untuk berbuat dan bertindak.

Tidak ada pemerintah yang mau rakyatnya sengsara dan tidak berdaya. Tidak ada anak bangsa yang ingin sesama anak bangsa sengsara.

Jika kita tidak berbuat, lambat laun, negeri ini akan benar-benar tertinggal. Dan ini merugikan bagi siapapun, termasuk yang ingin "berdagang" di Indonesia. Anda harus pastikan Indonesia tetap sejahtera agar Anda juga bisa terus berdagang toh?

Ini negeri kita...
Dan kita punya hak untuk membuatnya maju...
Salling berprasangka buruk di linimasa, tidak akan banyak membawa perubahan...

Alangkah baiknya kita turun ke masyarakat, bantu petani merevolusi bisnis modelnya, berfikir bagaimana panen bisa dibeli tinggi, maka itu akan merangsang hadirnya industri pertanian yang sehat.

Biaya teknologi jadi jelas uangnya darimana. Riset pertanian jadi jelas returnya. Akan hadir lab-lab canggih di desa-desa. Akan hadir anak-anak muda yang mau mendedikasikan dirinya di lahan-lahan pertanian kita.

Akan hadir suatu masa, dimana bangsa ini berdaya. Mampu memenuhi kebutuhan bangsanya sendiri, mampu mengirim dan berjualan komoditas ke negeri bangsa lain. Berdaya.. mandiri.. dan akhirnya punya harga diri untuk menegakan kepala.. sebagai Anak Bangsa.

Terima Kasih,
Rendy Saputra

#BerdayaDiNegeriSendiri

Bagikan

Jangan lewatkan

Tulisan Rendy Saputra Tentang Masalah Pertanian Yang Jadi Viral di Sosial Media
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.